Setelah merasakan sensasi mendebarkan tandem skydiving, banyak individu merasa terpanggil untuk mengambil langkah berikutnya: Belajar Terjun Payung Solo. Ini adalah sebuah komitmen serius yang membawa petualang dari peran sebagai penumpang pasif menjadi seorang pilot aktif di udara. Jalan tercepat dan paling efisien untuk mencapai tujuan ini adalah melalui program Accelerated Freefall (AFF), sebuah metodologi pelatihan intensif yang dirancang untuk membekali calon skydiver dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk mandiri segera setelah keluar dari pesawat. Program AFF tidak hanya mengajarkan cara mengontrol tubuh saat jatuh bebas, tetapi juga menekankan disiplin dan prosedur keselamatan yang ketat, yang merupakan fondasi penting untuk menjadi Skydiver Berlisensi yang bertanggung jawab.
Program Accelerated Freefall biasanya terstruktur dalam tujuh hingga delapan level lompatan, dimulai dengan pelatihan darat (ground school) intensif yang dapat memakan waktu minimal enam jam penuh. Pelatihan ini mencakup teori aerodinamika dasar, cara kerja peralatan, prosedur darurat, hingga simulasi pendaratan. Dalam lompatan pertama, yang dikenal sebagai Level 1, siswa akan melompat dari ketinggian standar 13.000 kaki (sekitar 4.000 meter) didampingi oleh dua Instruktur AFF (seringkali disebut Instruktur Level I dan Level II), yang memegang erat harness siswa. Tujuan utama di level ini adalah mempertahankan posisi tubuh yang stabil dan mendemonstrasikan kesadaran ketinggian, serta melakukan penarikan parasut yang tepat pada ketinggian yang telah ditentukan.
Ketika siswa lulus dari Level 1, mereka secara bertahap maju melalui tingkatan yang semakin menantang. Di Level 3 dan 4, siswa mulai mengurangi ketergantungan pada instruktur, yang mungkin beralih dari memegang erat harness menjadi hanya memegang satu kontak. Keterampilan yang dipelajari mencakup inisiasi dan pemulihan dari ketidakstabilan (seperti berputar), praktik penarikan (practice pulls), dan kemampuan untuk bergerak menjauh dari instruktur. Setelah Level 4, pendampingan seringkali dikurangi menjadi hanya satu instruktur, yang bertugas menilai dan membimbing kemajuan siswa. Lulus dari semua level AFF (hingga Level 7 atau 8) berarti siswa telah mencapai kompetensi yang memadai untuk melakukan lompatan solo tanpa pendampingan langsung, meskipun dengan pengawasan darat (ground supervision).
Namun, kelulusan dari program Accelerated Freefall hanyalah langkah awal. Untuk benar-benar menjadi Skydiver Berlisensi, siswa harus memenuhi persyaratan tambahan yang ditetapkan oleh badan pengatur internasional seperti USPA (United States Parachute Association) atau badan otoritas lokal di negara terkait. Untuk mendapatkan Lisensi AFF tingkat dasar, yang dikenal sebagai Lisensi A, calon skydiver harus menyelesaikan minimal 25 lompatan. Selain itu, mereka harus berhasil menyelesaikan ujian tertulis yang komprehensif, mencakup pengetahuan tentang prosedur darurat, peraturan udara, meteorologi, dan pengemasan parasut. Di sebuah fasilitas pelatihan seperti Skydive Bahari di Kepulauan Riau, sebagai contoh, ujian tertulis ini harus diselesaikan dan diluluskan sebelum siswa mencapai lompatan ke-20 mereka, memastikan dasar teoritis yang kuat sebelum mereka diberikan otonomi penuh.
Proses Belajar Terjun Payung Solo ini menanamkan disiplin yang luar biasa. Setiap lompatan adalah misi terstruktur yang harus didokumentasikan. Sebelum melompat, siswa harus mengisi log lompatan, memeriksa peralatan secara menyeluruh, dan mendapatkan izin dari Dropzone Safety Officer (DZO). Seorang Skydiver Berlisensi bertanggung jawab penuh atas keselamatannya, mulai dari pengecekan pin, harness, hingga mekanisme pelepasan cepat. Tanggal dan waktu lompatan, serta nama petugas yang memberikan izin, dicatat secara detail untuk keperluan audit keselamatan dan pembaruan lisensi tahunan.
Mencapai Lisensi AFF membuka dunia skydiving yang jauh lebih luas. Tidak lagi terikat pada lompatan lurus ke bawah, skydiver dapat mulai menjelajahi disiplin lanjutan seperti Formation Skydiving (membentuk formasi di udara bersama penerjun lain), Freeflying (mengubah orientasi tubuh), atau bahkan Canopy Piloting. Ini adalah puncak dari Belajar Terjun Payung Solo, sebuah pencapaian yang membuktikan bukan hanya keterampilan fisik, tetapi juga ketahanan mental dan kepatuhan yang ketat terhadap protokol keselamatan penerbangan.